Dampak Dehumanisasi Pendidikan Makin Meluas

[JAKARTA] Maraknya kekerasan, praktik aborsi, pornografi, tawuran, pelanggaran etika dan norma-norma sosial lain yang banyak terjadi di kalangan pelajar menunjukan telah terjadi dehumanisasi pendidikan di hampir setiap jenjang pendidikan. Kondisi itu terjadi sebagai bukti dari dampak orientasi pendidikan yang belakangan hanya sebagai komoditas kekuasaan dan juga kepentingan bisnis semata.
“Akibatnya, proses pendidikan tidak hanya menjadikan guru sebagai instruktur dan pawang semata, tetapi juga mengedepankan nilai kuantitas ketimbang nilai-nilai kemanusiaan dalam barometer pembelajaran,” ujar Sekretaris Eksekutif Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia, Benny Susetyo kepada SP di Jakarta, Senin (10/3), menanggapi terjadinya dehumanisasi pendidikan saat ini yang mengarah pada kekerasan dan degradasi moral.

Menurut Benny, terjadinya dehumanisasi pendidikan tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak zaman Orde Baru, namun hal itu tidak terjadi ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Alm) Fuad Hasan.

”Pada masa (Alm) Fuad Hassan, pendidikan yang ditekankan adalah pendidikan yang humanis, yakni salah satunya, orang tua yang anaknya pintar dan berasal dari kalangan miskin, masih dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah unggulan,” ujar Benny.

Namun, ketika terjadi pergolakan, khususnya setelah era reformasi, dehumanisasi pendidikan kembali menggeliat, terutama ketika keberadaan Menteri Pendidikan pada setiap kabinet adalah representasi dari kekuasaan atau kekuatan politik. ”Hasilnya, lambat laun, pemerintah tidak mempunyai visi dasar pendidikan yang jelas lagi. Dan, hal ini berakibat pada jajaran di bawahnya, baik di daerah, maupun semua institusi pendidikan di seluruh Indonesia,” kata Benny.

Selain itu, tambahnya, akibat adanya komoditas kekuasaan tersebut, pendidikan lambat laun pun seiring mengarah pada komersialisasi pendidikan. ”Ini misalnya, terjadi di hampir semua institusi pendidikan yang melakukan pungutan-pungutan liar di luar biaya sekolah,” kata Benny.

Akibatnya, ujar Benny, hanya segelintir orang dari kalangan mampu saja yang mampu mengenyam pendidikan tinggi, karena mahalnya biaya sekolah jika melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, ujar Benny, akibat pendidikan menjadi komoditas kekuasaan dan kepentingan bisnis semata, arah kebijakan pendidikan nasional saat ini pun seiring berubah, yakni lebih mengedepankan aspek kuantitas ketimbang nilai-nilai humanisme (kemanusiaan).

”Contoh yang paling konkret yakni, proses pembelajaran peserta didik yang hanya diukur melalui ujian nasional (UN) untuk menentukan kelulusan seorang peserta didik, sehingga siswa hanya dikejar dengan target-taget semata daripada pentingnya nilai etika dan estetika,” kata Benny.

Sebab itu lanjutnya, tak mengherankan pula, jika akhir-akhir ini, banyak siswa dan mahasiswa yang terjebak dalam kekerasan, juga terjebak dalam degradasi moral, baik di sekolah maupun di luar sekolah,” ujarnya.

Media Massa
Sementara itu, pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa Ki Darmaningtyas menilai, terjadinya dehumanisasi pendidikan tidak lepas karena pengaruh lingkungan dari luar sekolah.

”Ini terjadi karena di sekolah waktunya terbatas, sementara di luar lebih banyak waktu dinikmati oleh pelajar. Karena itu, lingkungan masyarakat memainkan peranan, namun yang paling dominan adalah pengaruh media massa,” ujar Ki Darmaningtyas.

Menurut Darmaningtyas, media massa, dalam hal ini televisi, justru memberikan inspirasi dan kesan yang mendalam pada pelajar dan mahasiswa, khususnya pada tayangan yang berbau seksual dan kekerasan. [E-5]

Source: Suara Pembaruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: