Pembangunan Berbasis Kampung di Yapen Waropen

Kesenjangan pembangunan yang terjadi selama 45 tahun kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi (1 Mei 1963-1 Mei 2008) sesungguhnya merupakan biang kerok lemahnya partisipasi masyarakat dalam totalitas pembangunan kampungnya. Kondisi ini diperparah lagi dengan hadirnya berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak masyarakat, justru menjadi pemicu tingginya angka kemiskinan. Hal ini disebabkan belum sepenuhnya dipenuhi hak-hak dasar masyarakat. Akibatnya, terjadi kesenjangan sosial antarwilayah, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan rendahnya pendapatan masyarakat. Untuk menyikapi hal tersebut, sekaligus sebagai wujud komitmen dukungan atas program kerja Gubernur Papua melalui paket program rencana pembangunan strategi kampung (respek).  Respek sesungguhnya merupakan salah satu strategi pembangunan kampung yang ditujukan sebagai solusi pemenuhan hak-hak dasar orang asli Papua yang terdiri atas pemenuhan makanan dan gizi, kesehatan, pendidikan, ekonomi loka,l dan infrastruktur kampung.  Bupati Yapen Waropen, Papua, Soleman Daud Betawi mengatakan, pemekaran distrik merupakan solusi memudahkan pelaksanaan respek. Pemekaran distrik memperpendek rentang kendali pemerintahan, dengan demikian perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan kampung justru jauh lebih optimal. Sumber daya yang ada dapat dialokasikan untuk mempermudah pelayanan publik dalam berbagai sektor sehingga menjadi lebih dekat dengan masyarakat di kampung. Sebagai upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, pihaknya sedang berupaya merencanakan pembangunan perumahan rakyat dengan mengambil model dari Bora-Bora Hotel Maladewa, di Kapulauan Pasifik. Itu merupakan salah satu objek wisata termahal di dunia karena dirancang dengan mempertimbangkan alam, memanfaatkan bahan-bahan lokal, dan memiliki sentuhan arsitektur yang baik.  Hal itu ditampilkan sebagai contoh untuk perbandingan bahwa Papua juga berpotensi untuk menjadi lebih baik seperti itu. Alasannya, alamnya jauh lebih cantik, terutama karena keragaman yang dimiliki (hutan dan lautnya). Bahan lokalnya tersedia dalam jumlah yang melimpah serta penduduk aslinya memiliki kebudayaan bermukim (arsitektur) yang sangat beragam pola dan bentuknya jika dikembangkan akan memiliki daya tarik wisatawan. Walaupun permukiman yang dibuat diadopsi dari resort, namun direncanakan Kampung Yeumi yang akan dijadikan model perumahan rakyat dengan penataan lebih baik. Pola tata letak bangunan membentuk unit-unit kelompok bangunan sehingga memberi keindahan, tidak kumuh dan rapat, seperti sebelumnya.  EstetikaBahan bangunannya dibuat dari bahan lokal. Atap rumahnya berupa atap dari rumput ilalang, dinding rumah dibuat dari kayu/papan. Lantainya dari kayu dan fondasinya menggunakan tiang pancang ini menciptakan estetika lingkungan yang sepadan dengan kondisi alam. Pola ini membuat Bora-bora Resort Maladewa menjadi sangat terkenal di dunia.  Pola di atas dimaksudkan untuk menata lingkungan agar menjadi lebih teratur, memanfaatkan lahan lebih optimal karena jumlah warga selalu bertambah serta akses ke laut dapat dijangkau semua warga.  Konon, menurut cerita pada orangtua tempo dulu, sebelum kedatangan bangsa Eropa di Tanah Papua pada awal abad XVI, penduduk Yapen telah berhubungan dengan dunia luar melalui ekspedisi-ekspedisi perdagangan dan perang (Mansoben 1995). Akibat, kontak dengan dunia luar tersebut banyak unsur kebudayaan luar yang kemudian sebagai bagian dari kebudayaannya, seperti kepemilikan gelang perak, guci, piring-piring keramik dari Tiongkok, dan manik-manik. Selain bukti sejarah, fakta juga mencatat bahwa penduduk Pulau Yapen umumnya menggunakan perahu yang tidak hanya digunakan sebagai sarana transportasi semata, tapi juga sebagai alat tukar dan jual beli serta meningkatkan status sosial seseorang, termasuk sistem kekerabatan.  Penduduk Pulau Yapen adalah peramu sagu sekaligus sebagai nelayan laut lepas. Kegiatan bercocok tanam sangat terbatas karena lingkungan tempat tinggal mereka umumnya dikelilingi oleh pohon sagu yang tumbuh secara alamiah dalam jumlah yang melimpah. Selain itu, berbagai jenis hewan untuk diburu dan potensi sumber daya alam (SDA) yang melimpah bila diusahakan sedikit saja mereka telah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.  Terkait penataan kembali Kampung Yeumi di Teluk Airani, Distrik Poom, Kabupaten Yapen Waropen sebagai pilot project kebijakan pembangunan berbasis kampung dimaksudkan sebagai cara untuk menciptakan suatu lingkungan permukiman kampung yang mampu menjadi model bagi pembangunan kampung lain di Papua. “Kami berupaya merancang unit-unit rumah penduduk yang nyaman sebagai tempat tinggal mereka,” katanya.  Meningkatkan kualitas hidup penduduk Kampung Yeumi melalui pengembangan dan perbaikan kondisi yang sudah ada dengan menitikberatkan pada pertimbangan penyediaan sarana dan prasarana fasilitas dan peruntukan lahan yang jelas dan optimal, katanya. Penataan kembali Kampung Yeumi tetap mempertahankan kebudayaan bermukim di atas laut sebagai identitas penduduk Pulau Yapen. Hal itu dimaksudkan untuk menghindarkan penduduk dari nyamuk malaria sehingga kesehatannya lebih terjamin, hutan tetap terjaga dan lestari karena digunakan hanya sebagai tempat berkebun, berburu, beternak, menokok sagu dan sebagainya. 

Orientasi ke laut tidak per-nah akan pudar malah menjadikan penduduk Pulau Yapen di- kenal sebagai pengarung samudera sejati. [SP/Gabriel Maniagasi dan Roberth Isidorus]

Source: Suara Pembaruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: