SMA PGRI Mamberamo Tidak Punya Guru

KOSANAWEJA- Jika sekolah yang berada di kota biasanya kelebihan guru, maka lain halnya yang terjadi di pedalaman Papua. Sebut saja di SMA PGRI Mamberamo Raya, sekolah yang didirikan sejak tahun 1997, ternyata sampai saat ini belum juga memiliki seorang tenaga guru tetap, kecuali hanya kepala sekolah. Padahal, sekolah itu merupakan satu-satunya sekolah lanjutan tingkat atas yang ada di Kabupaten pemekaran Mamberamo Raya. 

Meski tidak punya guru tetap, bukan berarti sekolah itu harus tutup. Ibarat tidak ada rotan akarpun jadi. Agar proses belajar mengajar tetap jalan, maka terpaksa hanya memanfaatkan tenaga sukarela dari tenaga guru SMP N I Mamberamo Raya yang kebetulan berada pada lokasi yang sama, tepatnya di Kosanaweja, Distrik Mamberamo Tengah.

Menurut Kepala Sekolah SMA PGRI Mamberamo, Hetty Samon pemintaan kekurangan tenaga guru sudah berkali-kali diperjuangkan sampai ke Sarmi dan provinsi Papua, namun hingga saat belum juga ada respon. Dijelaskan, sebab sekolah itu harus tetap eksis, maka dirinya dengan berbagai upaya bisa memanfaatkan guru-guru SMP Negeri I yang ada. “Saya terima kasih kepada guru-guru yang mau rela mengabdi membantu gajar anak-anak kami di SMA PGRI,”katanya kepada Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, pekan lalu.

Dikatakan, SMA PGRI ini sudah ada sejak tahun 1997 dibangun melalui swadaya sendiri, namun baru tahun 2004 mendapat bantuan operasional dari Kabupaten Sarmi. Hanya saja bantuan berupa bangunan sekolah itu sampai saat ini belum bisa difungsikan, lantaran belum dilengkapi fasilitas penunjang seperti asrama, termasuk meja dan kursi sekolah.

Selain kekurangan tenaga guru, hal lain yang jadi keluhan adalah fasilitas (rumah guru tidak ada) termasuk soal kesejahteraan guru-guru pedalaman tidak diperhatikan. Hal itu juga diakui Kepala Sekolah SMPN I Mamberamo Benediktus Amoye.

Selama ini guru yang ada di SMPN I hanya ditampung di mes bujang, akibatnya para guru tidak satupun bisa memboyong keluarga mereka.” Ini juga masalah bagaimana guru dapat tenang mengajar kalau istri dan anak di kota,”katanya. Soal kesejahteraan, apa yang selama didegung-degungkan pejabat di provinsi berupa janji dana insentif bagi guru-guru yang bertugas di pedalaman, ternyata tidak terbukti. “Saya minta pejabat jangan komentar dengan barang yang tidak ada, kami sudah kenyang dengan janji-janji kesejahteraan, tapi buktinya mana,”katanya.

Menurutnya, kalau bicara terpencil maka, Mamberamo lah salah satu daerah yang cukup terpencil. Sulit dengan tranportasi, sementara tunjungan yang mereka dapatkan selama iini diberlakukan sama dengan guru di tinggal di kota. “Kami hanya dapat tunjungan Rp 125000 per bulan, apa itu namanya tunjungan guru terpencil,”katanya heran. (don)

Source: Cenderawasih Pos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: